sepax...

Loading...
bacalah dari apa yang kalian inginkan.tapi janganlah menjadi PLAGIAT, bila anda tidak ingin di disamakan seperti Anjing liar yang menghembuskan sebuah tulang.ingatlah hargai ciptaan orang lain.

Senin, 02 April 2012

IBU DAN SYAIR KEMATIAN


  HINGGA terdengar panggilan boarding, tak ada lagi berita tentang kondisi Ibu yang sedang terbaring di ruang ICU. Masih koma. Hanya itu SMS terakhir adikku. Untuk menjawab pertanyaan yang barangkali menggelayut di benak keluarga yang tinggal di Semarang, aku segera menyampaikan pesan, "Sebentar lagi aku akan naik pesawat..."
***

LEPAS landas, menembus jendela berembun dibasuh kabut-kabut lembut cairan mengkristal, mataku menerawang. Berlatar awan-awan putih melapis langit, lamunanku menghadirkan bayangan Ibu yang sedang kritis.

Lalu tiba-tiba terngiang kata-kata Ibu setahun lalu, saat kami selesai menggulung tikar, setelah para ulama dan ustad, kawan-kawan Bapak, pengurus Madrasah Muhammadiyah Kampung Pendrikan, beriringan pulang. Ya, mereka memang rajin membacakan Surat Yasin dan mengalunkan zikir untuk mendoakan para sahabat yang telah lebih dahulu pergi. Waktu itu, mereka bertahlil khusyuk sekali saat memperingati 1.000 hari kematian Bapak.

"Kamu nggak usah sedih jika suatu nanti aku menyusul bapakmu. Kalau kamu sedang liburan atau bertugas ke luar negeri, kamu tak perlu buru-buru pulang. Yang penting, kamu jangan melupakan janjimu membuat syair untuk digubah menjadi lagu. Bukan aku yang minta lho... kan kamu sendiri yang janji.

Aku akan merasa bahagia di alam kematian, mendengarkan nyanyian yang kamu ciptakan. Tapi jangan yang norak. Mendengarnya, nanti aku nggak nyenyak tidur di dalam kubur. Bisa-bisa malah keliaran jadi leak atau kuntilanak..."

"Rasanya Ibu lebih cocok jadi Si Manis Jembatan Ancol deh daripada kuntilanak," adik perempuanku yang paling kecil menyahut.

Ini membuat kami tertawa semua.

"Amit amit!" Ibu mengucap sambil mengetuk-ngetuk tonjolan lekuk jarinya ke permukaan lantai.

Jika berbincang mengenai janji-janji apa pun yang hendak kami berikan kepadanya, Ibu tak pernah mengingat-ingat. Mungkin karena tak terlalu mengharapkan. Tetapi terhadap janjiku untuk membuat puisi dan menggubahnya menjadi lagu, Ibu tak pernah lupa. Bahkan ditagih terus sampai akhir hayat.

Itulah Ibu. Ia menyambut kematian dengan canda. Sepertinya ia ingin meninggal sambil tertawa. Dari perkataan-perkatan yang terlontar, aku tahu ia merasa telah menyelesaikan kewajiban menjalani kodrat sebagai perempuan, ibu, dan istri, sehingga menjemput kematian, serasa tak memiliki beban atau kekhawatiran sama sekali. Bahkan kelihatan sangat sumringah dan bergairah.

"Umurku sudah 75 tahun. Tugas terakhir menyelenggarakan seluruh selamatan untuk almarhum yang menjadi tradisi sudah kupenuhi. Akan kuusahakan menjelang kematian aku tak menyusahkan siapa pun. Bapakmu itu orang yang paling beruntung. Mati tanpa sengsara akibat sakit berlarut-larut. Tapi dasar pedagang, meninggal pun saat sedang mencari uang..."

Bapak memang wafat dengan cepat. Waktu itu, berangkat ke kantornya yang mirip gudang di Pekojan, kawasan Pecinan, Bapak ditemani oleh Tasya, salah seorang cucu. Walaupun sudah berusia 73 tahun, Bapak tidak pernah mau berhenti bekerja. Tetapi tidak seperti saat masih muda yang keranjingan kerja, menghabiskan masa tua, Bapak bekerja seenaknya. Berangkat ke kantor pukul 10.00, pukul 14.00 sudah sampai di rumah lagi. Yang diurusi pun hanya perusahaan pribadi -berupa grosir gula pasir- yang didirikan bersama Koh Mboen, Cina Singkek, sahabat lama yang bentuk pertemanan mereka oleh Ibu disebut sebagai "benang dengan layangan".

Di tengah jalan, saat mengendarai mobil, Bapak terkena stroke. Mungkin akibat penyakit tekanan darah tinggi yang pada saat-saat terakhir kurang diurus. Belum sampai di rumah sakit, saat dilarikan tukang becak langganan yang kebetulan memergoki, Bapak sudah tak bernapas lagi. Menurut Tasya, sebelumnya Bapak kejang-kejang sebentar. Kematian semacam itulah yang dianggap Ibu sebagai kematian yang cukup menyenangkan.

Dua hari yang lalu Ibu dibawa ke rumah sakit karena terjatuh di kamar mandi. Sekarang Ibu dalam keadaan tak sadarkan diri, tetapi belum sampai sehari penuh. Pasti Ibu sedang ditopang oleh berbagai peralatan medis dan mekanis.

Jika dokter mengatakan tindakan itu sebagai jalan satu-satunya untuk mempertahankan hidup yang tak mungkin lagi memperoleh kesembuhan, apakah maksud Ibu "tak ingin menyusahkan" berarti sama dengan aku harus mengizinkan selang-selang yang kubayangkan malang melintang itu dicabut dan seketika menghilangkan nyawanya?

Apakah dengan demikian Ibu merasa "beruntung" karena kematiannya tidak "sengsara akibat sakit yang berlarut-larut"?

Bukankah menurut agama kita tidak boleh mendahului Sang Pencipta dan hanya Dialah Penguasa yang berhak mencabut nyawa manusia? Bukankah kewajiban seorang anak harus mengupayakan pengobatan dan memanjatkan doa kepada Yang Maha Kuasa, memohon diberi kesembuhan yang kemungkinan -dalam keadaan separah apa pun- dapat saja dikabulkan?

Alangkah jahat dan durhaka seorang anak menutup harapan hidup orang tua yang telah melahirkan dan membesarkan dengan penuh pengorbanan dan kasih sayang. Apalagi dilakukan dengan sengaja dan jelas-jelas akan mengakibatkan nyawanya tercabut.

Hmm, di satu sisi aku menangkap sepenggal wasiat,...sebuah permintaan. Tetapi di sisi lain aku harus menjalankan amanah,... kewajiban insan beriman.

Saat dicekam kebimbangan semacam itu, terbayang segala keindahan sosok Ibu.

Ibu selalu memandang segala sesuatu yang terjadi sebagai hikmah yang harus disyukuri. Pelajaran tentang cara menatap kehidupan, banyak yang ia ajarkan. Ibu selalu mengingatkan, "Hal-hal yang kelihatan sepele tetapi digali dari lubuk yang paling dalam akan memunculkan kemurnian. Jangan suka mengungkap yang semu, apalagi palsu, atau memaparkan keunggulan dan kemewahan. Biar orang lain memuji atau memperbincangkan, tetapi jangan sekali-kali kamu yang menceritakan tentang kehebatanmu atau keluargamu. Bahkan sebaliknya, kamu yang harus menceritakan kehebatan mereka."

Dulu aku merasa iri ketika teman-teman menceritakan kehebatan ibunya. Aku ingat Tommy menceritakan ibunya yang menguasai empat bahasa asing, lulusan sebuah akademi, dan menjadi pejabat sebuah bank pemerintah. Menuk bangga ibunya sebagai pengurus organisasi massa yang memiliki banyak pengikut. Kemal memuji ibunya yang pandai bermain tenis dan menguasai bridge, olah raga otak kalangan intelek. Dewi katanya punya ibu sangat istimewa yang selalu membantu menyelesaikan pekerjaan rumah dan mencarikan penyelesaian soal-soal yang tak dimengerti.

Ibuku? Ibuku hanya seorang guru sekolah rakyat. Itu pun ia lakukan hanya sampai ketika Bapak telah sepenuhnya berdagang, melepas pekerjaan sebagai karyawan PLN, dan pengawas beberapa gardu wilayah selatan. Hanya satu bahasa asing, bahasa Belanda yang dikuasai. Itu pun karena Ibu pernah sekolah di HIS. Ibu juga sangat-sangat menghindari ikut organisasi massa. Paling-paling ia aktif di paguyuban aliran kebatinan, membantu kakaknya menyiapkan katering jika mereka mengadakan semedi bersama.

Bermain tenis? Tidak mungkin. Main badminton saja sepertinya akan kedodoran. Membantu menyelesaikan pekerjaan rumah atau memecahkan soal-soal dari sekolah? Rasanya sedapat mungkin ia jauhi.

"Kalau kamu tak mampu, jangan dipaksakan. Mungkin sebatas itu kapasitas yang menjadi suratan. Tetapi setiap orang, biar bodoh sekalipun, harus menggunakan kepintaran yang dimiliki untuk memecahkan masalah yang dihadapi, tanpa bantuan orang-orang yang semestinya tak dilibatkan. Artinya kamu harus berusaha sendiri. Harus mandiri!" Ibu sering berkata begitu dan Bapak sangat setuju.

Saat kuceritakan banyak kawanku yang membanggakan ibunya dan kutanyakan apa sebetulnya kehebatan Ibu yang harus kuceritakan kawan-kawan, ia malah bilang, "Mestinya aku yang nanti harus bangga padamu, bukan sebaliknya. Bilang saja ibumu hanya seorang guru sekolah rendah."

"Boleh aku menceritakan Ibu sebagai seorang pujangga?"

"Menceritakan aku gemar bersyair boleh-boleh saja. Siapa tahu mereka menjadi terinspirasi mencintai syair juga. Tetapi jangan kaubanggakan aku sebagai penyair. Itu bukan profesi atau hobi yang kugeluti. Aku telah memilih pekerjaan sebagai ibu rumah tangga. Kesenanganku hanya memasak dan bersih-bersih rumah. Sisa waktu, paling kuhabiskan untuk membaca buku atau kadang-kadang menulis. Bapakmu yang meminta aku mengisi waktu bersama keluarga saat dia harus mengorbankan waktu karena disita kesibukan mencari uang."

Memang aku dan adik-adikku sangat merasakan di rumah selalu ada seseorang yang menjadi tempat berkeluh dan sosok tumpuan menyibak kebuntuan. Tidak hanya muncul secara fisik, ia juga menghadirkan jiwanya. Pendek kata, Ibu itu bagi kami adalah tiang kelana kehidupan yang memotivasi untuk terus berprestasi. Untuk memberi inspirasi, Ibu sering membacakan puisi. Baik karya sendiri atau cuplikan dari sebuah antologi. Ibu bilang semua itu untuk menggugah perasaan agar lebih peka menerima pesan-pesan berarti yang perlu dipahami.

Kemudian kami memang bersama-sama membangun ruang komunikasi dengan pengantar bahasa-bahasa samar. Rasanya menggunakan ungkapan metaforik, talirasa lebih lekat terjalin dan maknanya lebih meresap ke dalam perasaan.

Kata Ibu, "Syair itu merupakan kelembutan ekspresi keberadaan jiwa. Syair itu kehadiran ruh kita yang selalu ingin menyatu dalam jalinan keluarga. Tubuh kita bisa mati. Fisik kita bisa sirna. Tetapi ruh kita akan tetap hidup. Antara lain ya dalam syair itu."

Kami terdiam.

"Jadi kalau aku mati, itu hanya kematian jasadku yang akhirnya dengan tanah lebur menyatu. Saat kamu baca syair yang lahir dari tanganku, ruhku akan ada di situ. Begitu pula saat kamu baca syairmu, aku pasti akan tergugah menyimak. Jadi, mari usahakan kita dapat terus berkomunikasi lewat syair atau sekarang kau menyebutnya sebagai puisi!"



***

SAAT menuruni tangga pesawat, kebimbangan yang menyelimuti, kupendam dulu dalam-dalam. Biarlah nanti kuputuskan setelah melihat dan memahami situasi. Tetapi tanpa sebuah keputusan yang kuyakini, tetap saja keraguanku menempatkan perasaan mengambang tak menentu. Jika keadaan Ibu seperti yang kubayangkan, betul-betul aku akan dihadapkan pada posisi yang amat sangat sulit.

Saat HP kubuka kembali, membaca pesan adikku, aku tersenyum. Ternyata Ibu benar-benar tak ingin menyusahkan. Ia wafat saat pesawat telah mengudara. Dan air mataku seketika deras mengalir. Apakah itu tangis sedih, lega atau haru, terasa berbaur hingga tak dapat dengan mudah dipilah-pilah. Mungkin Ibu mangkat setelah beliau yakin benar, sebentar lagi aku pasti akan datang.

Ketika adikku menyampaikan bahwa jenazah menungguku untuk dimandikan, langsung kupesan taksi menuju RS Elisabeth. Menurut kebiasaan, semua anak-anak harus ikut mengguyur jenasah sebelum dibungkus kain kafan. Walau lengan baju sudah kusingkap, niat memandikan kuurungkan, setelah adikku menyampaikan titipan Ibu, sebelum beliau kehilangan kesadaran.

Kudapati tulisan serupa syair, serupa puisi terselip dalam amplop: "Tak usah kau ikut memandikan/ Jasadku yang dingin profan/ Singkaplah kain kafan/ Pandang wajahku dalam senyuman/ Lalu bacakan puisi-puisi/ Mengiring hidup di alam kematian"

Selesai dimandikan, kupandangi wajah Ibu yang cerah, sedang pulas tidur sambil tersenyum. Memenuhi permintaannya, kubacakan syair-syair dalam berbagai bahasa yang Ibu mengerti, Jawa, Melayu, Belanda dan satu syair indah berbahasa Arab, yang dilafalkan Ibu pada waktu malam: Surat Yasin.

Selamat jalan, Ibu. Pasti, akan kugubah sebuah lagu mengiringi melepas rindu saat engkau bertemu kekasihmu.***

Bintaro Jaya, 5 Februari 2007

4 komentar:

  1. sangat menarik,membuatku ingin menangis.bagus kak ceritanya. buat yang lain kak. :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. makasih INDAH, iya entar kakak buat lagi. semoga kamu suka dengan cerita yang lain. terima kasih adek.:)

      Hapus
    2. sama kak.buat yang bagus lagi.:) saya suka baca cerpen kok kak. :)

      Hapus
    3. baik dek ini sudah ada yang baru. 3 cerita lagi.:)

      Hapus

SESUDAH BACA,TOLONG DI KOMENTAR!!
AFTER READING,THE COMMENTARY!!